Repch

0 0
Ketua DPRD provinsi Sulawesi Tenggara meminta pemerintah untuk menunda 500 tenaga kerja asing (TKA) asal Cina. Hal ini diungkapkan saat menggelar rapat secara online (Teleconference) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Pemerintah Pusat.
Menurutnya, tenaga kerja asal Cina harus ditunda sampai perusahaan mau patuh dan taat dengan persyaratan yang ada. Yaitu: menunjuk tenaga kerja pendamping, memiliki rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA), membayar dana kompensasi penggunaan tenaga kerja asing (DKP-TKA) US $100 per jabatan perorang setiap bulan, melaksanakan pendidikan dan latihan tenaga kerja pendamping (TKP), memfasilitasi pendidikan dan pelatihan bahasa Indonesia, mengikutsertakan tenaga kerja asing dalam program asuransi Indonesia (<6 bulan) dan jaminan sosial nasional (≥ 6 bln).
“Pihaknya baru akan menerima jika seluruh tenaga kerja asing itu sudah patuh dan taat pada aturan yang disyaratkan. Juga wajib menggunakan visa 311 untuk bekerja dan pemeriksaan kesehatan yang menunjukan hasil swab negatif untuk meredam keresahan masyarakat,” kata Abdul.
Ditengah tengah rapat bersama pemerintah daerah dan pusat, Abdul Rahman Saleh sempat marah-marah meminta pihak pemerintah untuk menunda kedatangan tenaga kerja asal Cina. Rencananya mereka akan datang tanggal 23 Juni dan bekerja di PT. Virtu Dragon Nikel Industri (VDNI) dan PT. Obsidian Stainless Stell (OSS) nikel yang berlokadi di kabupaten Konawe.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Share Here:

Average Rating

5 Star
50%
4 Star
0%
3 Star
50%
2 Star
0%
1 Star
0%

14 thoughts on “Ketua DPRD Sulawesi Tengah Minta Kedatangan TKA Cina Ditunda

  1. I have been looking for articles on these topics for a long time. casinocommunity I don’t know how grateful you are for posting on this topic. Thank you for the numerous articles on this site, I will subscribe to those links in my bookmarks and visit them often. Have a nice day

  2. An interesting discussion is worth comment. I think that you should write more on this topic, it might not be a taboo subject but generally people are not enough to speak on such topics. To the next. Cheers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *