Repch

Jakarta – Rano Karno dikenal sebagai seorang aktor, penyanyi, sutradara, dan produser. Seniman serba bisa ini memulai debutnya di dunia hiburan sejak umur 9 tahun dengan membintangi film Lewat Tengah Malam
Namanya mulai dikenal lewat film Si Doel Anak Betawi (1972) karya Sjuman Djaja yang diangkat dari cerita Aman Datoek Madjoindo.
Seiring bertambahnya usia, karir Rano semakin bersinar. Ia membintangi sejumlah film remaja dan dewasa seperti Wajah Tiga Perempuan (1976), Suci Sang Primadona (1977), Gita Cinta dari SMA (1979), hingga Taksi (1990) yang mengantarkannya meraih Piala Citra kategori pemeran pria terbaik.
Darah seni Rano Karno diwarisinya dari sang ayah Soekarno M. Noer. Soekarno M. Noer dikenal sebagai salah satu seniman tanah air pada era 60an hingga 70an.
Meski demikian, Rano rupanya sempat dilarang oleh ayahnya untuk menjadi seniman.
“Bapak gue malah ga mau anaknya jadi seniman,” ungkap Rano Karno kepada Helmy Yahya dalam video di YouTube Helmy Yahya Bicara, Senin (13/7/2020).
Rano menerangkan, saat itu di tahun 60an hingga 70an perfilman Indonesia tengah mati suri. Karenanya pekerjaan sang ayah sebagai seorang aktor pun jauh berkurang.
“Makanya bapak gue dibilang seniman Senen, seniman Senen tuh seniman yang nongkrongnya di Pasar Senen, Planet Senen. Jadi tiap hari latihan, manggungnya nggak,” terang Rano.
Rano menambahkan, sang ayah memiliki alasan kuat dibalik larangannya itu. Ia khawatir hidup anaknya akan susah seperti dirinya.
“Makanya ada lagu sepiring berlima, kita tiap hari makan begitu. Jadi kalau makan kaya anak kucing, bener-bener. Telor dadar potong berlima, nah bagi deh tuh,” jelas Rano.
Mewarisi darah seniman dan tinggal di lingkungan para seniman di Kemayoran Jakarta Pusat, menjadi alasan kuat bagi Rano untuk menentang larangan ayahnya tersebut. Ia bersikeras untuk mengikuti jejak sang ayah menjadi seniman.
“Gue ga pernah dianterin, syuting mau ke Banten, kemana, jadi sendiri aja. Jadi bener-bener bukan bahasanya hidup susah, cuman jaman kecil kita susah,” ujar Rano.
Kisah perjuangan Rano Karno dalam meraih mimpinya pun telah ia ceritakan kepada kedua anaknya Raka Widyarma dan
Deanti Rakasiwi. Cerita tersebut ia beri judul Balada Roti Gambang.
“Makanya aku seneng nyeritain kisah sama dua anakku ini balada roti gambang. Lo tau roti gambang? Roti cokelat yang segede gini (sambil menunjuk tangannya) kita potek makan satu, simpan di lemari. Dua minggu baru abis karena ga bisa beli roti,” kenangnya.
Sumber: Youtube Helmi Yahya Bicara
(AS)
Share Here: